Mimpi
Published on 03/01/2026
Di awal tahun ini, cuti yang ku ambil selama 3 hari hanya dipakai untuk istirahat. Sebenarnya kata “hanya” di kalimat tadi gak perlu. Karena rasanya aku benar-benar perlu yang namanya istirahat.
Kembali ke kamar, tidur di kasur ku yang nyaman, dan membaca buku adalah hal yang tak disangka menjadi kegiatan yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Aku menemukan buku lama yang sudah pernah dibaca saat SMA (atau mungkin SMP, ya?), intinya itu buku lama.
bau buku baru yang sudah lama menghilang, lembaran yang sudah menguning, dan bercak-bercak yang muncul menarik perhatianku.
Buku ini tebal. Kira-kira 444 halaman dan belum pernah diselesaikan sampai saat ini.
Tapi tak terasa kali ini sudah sampai setengah buku habis dibaca hanya dalam 1 hari. Wow. Sebetulnya, kisah Kugy dan Keenan cukup sulit untuk ku bayangkan. Mereka adalah orang-orang yang menurutku punya mimpi. Banyak cara yang ditempuh untuk bisa mewujudkan mimpi itu. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan, tapi in the end mimpi itu berhasil mereka gapai; atau setidaknya sempat dirasakan.
Aku termenung. Setiap lembaran kisah tentang mimpi mereka, membuatku benar-benar berpikir.
“Apa ya mimpiku?”
Sampai saat ini aku bahkan belum bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tidak yakin apakah sebenarnya mimpi itu harus ada atau tidak, atau hanya aku yang belum tau mimpiku apa?
Aku benar-benar lupa kapan terakhir kali aku merasa ingin mencapai sesuatu. Aku bahkan tidak yakin, apakah hal yang kulakukan sekarang bisa disebut sebagai mimpi atau hanya rutinitas yang sudah terjebak dalam pikiranku sejak awal.
Begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak ini, tapi aku ragu. Jika suatu hari jawaban dari “mimpi” itu sudah ku temukan, apakah masih ada waktunya untuk menggapai mimpi itu?